Dapatkah Reward & Punishment Memecahkan Masalah Kedisiplinan Proses Pembelajaran (Kussudiyarsono, QA

Bukanlah hal aneh kalau mahasiswa sering mengeluh tentang ketidakhadiran dosen dalam perkuliahan. Tidak pula asing kita denganr mahasiswa mengeluh tentang dosen yang menyampaikan kuliah kurang dari satu jam, ataupun menyampaikan materi seadanya. Yang ironis, pernah ada dosen yang menuliskan kehadiran di kelas padahal tidak menyampaiakn kuliah. Hal ini tentu sangat mengecewakan mahasiswa yang serius untuk mengikuti perkuliahan.

Bagi dosen, ketidakhadiran dalam mengajar sesuai jadwal merupakan yang tidak terhindarkan mengingat suatu kali mereka mempunyai keperluan yang tidak terhindarkan. Namun demikian menjadi tidak wajar bila tidak ada penggantian jadwal mengajar, ataupun tidak pernah mengajar di kelas. Hal ini berdampak buruk terhadap proses pembelajaran. Pertama, mahasiswa menjadi kecewa, dan hal ini akan berdampak buruk terhadap motivasi belajar mereka. Mahasiswa memperoleh contoh yang buruk tentang kedisiplinan. Kedua, dosen yang mengajar sungguh-sungguh merasa usahanya menjadi sia-sia dan kecewa. Apa yang mereka bangun dipatahkan oleh rekan seprofesinya. Belum lagi, apabila dosen yang disiplin dalam mengajar, memperoleh pendapatan yang sama dengan dosen yang jarang mengajar di kelas. Hal ini tentu sangat mengecewakan.

Dampak dari dosen yang malas untuk mengajar bukan semata ditanggung mereka namun juga seluruh institusi. Kenapa demikian? Ibarat perahu yang sedang berlayar ditengah lautan, perilaku salah satu awak yang merusak perahu menjadi bocor dan tenggelam bukan hanya berdampak pada awak yang merusak perahu tetapi seluruh isi perahu. Perilaku malas untuk mengajar juga bisa menjadi virus bagi dosen yang biasanya rajin mengajar. Dosen yang biasanya rajin mengajar menjadi berpikir, “kenapa harus susah-susah mengjar kalau mendapatkan pekerjaan yang sama?”

Tidak bisa tidak, permasalahan ini harus segera diatasi. Profesionalisme adalah rewarding. Orang yang menjalankan perilaku yang positif harusnya memperoleh imbalan yang positif, sebaliknya orang yang menjalankan perilaku negatif harusnya memperoleh imbalan yang negatif (sanksi)-reward and punishment. Kalau tidak dilakukan, akan terjadi extinction (pemadaman), dimana orang yang semula berperilaku positif tidak akan mengulangi perilakunya, ataupun menjadi pasif.

Namun seberapa tepat reward and punishment dilakukan? Hal itu tergantung tipe manusia seperti apakah dalam lingkungan institusi tersebut. Menurut Douglas McGregor, manusia mempunyai kecenderungan menjadi manusia tipe X dan tipe Y. Tipe X digambarkan sebagai manusia yang pasif, malas dan tidak punya inisiatif dan harus diawasi agar pekerjaan bisa selesai dengan baik, karena cenderung menghindar dari tanggung jawab. Sedangkan manusia tipe Y adalah manusia yang penuh sifat inisiatif, bertangung jawab. Orang ini melakukan pengendalian diri dan pengarahan diri untuk mencapai tujuan yang telah disetujuinya. Dalam kaitan dengan reward dan punishment, orang dengan kecenderungan tipe Y tidak cocok dengan model punishment. Reward lebih cocok bagi mereka. Sedangkan tipe X, punishmentlah yang ditekankan agar mereka bisa bekerja dengan baik.

Namun dalam prakteknya sangat sulit untuk menerapkan model ini dalam organisasi, kenapa? Karena memerlukan daya dukung sistem yang baik, aturan yang jelas dan tegas, kedisiplinan anggota organisasi serta keteladanan bagi pimpinan. Tidak mungkin orang dijatuhi sanksi apabila tidak ada peraturan yang mrngatur. Sistem yang baik akan dapat memberikan sinyal manakala ada penyimpangan dari aturan. Tidak adanya keteladanan dari pimpinan menyebabkan sanksi sulit untuk dijatuhkan. Keputusan memberi sanksi terletak pada pimpinan. Apabila pimpinan memberi sanksi, namun mereka melakukan hal yang sama, maka akan terjadi ketidakpercayaan dari anggota organisasi.

Di UMS, mekanisme reward telah diupayakan. Hal ini tercermin pada beberapa kebijakan seperti; adanya hibah bagi dosen berprestasi, sistem penggajian per kedatangan, dana yang cukup besar bagi peneliti dan penulis buku dan insentif bagi dosen yang mengikuti seminar-seminar ataupun menulis dikoran atau jurnal. Namun demikian mekanisme punishment sulit sekali untuk dilakukan. Dalam konteks ini aturan yang mengatur sanksi belum cukup jelas. Selama ini belum pernah terdengar dosen yang tidak mengajar memperoleh sanksi institusi. Siapakan yang berhak memberikan sanksi apabila dosen tidak pernah mengajar. Ketua jurusankah? Dekankah? Biro Kepegawaiankah? Rektor? Ataukah BPH. Serta bagaimana mekanisme sanksi dijatuhkan? Belum lagi masalah hambatan sosial seperti rasa sungkan terhadap teman yang melakukan pelanggaran. Selama ini masalah pelanggaran kedisiplinan lebih diserahkan pada individu masing-masing. Apabila orang tersebut sadar dan malu, mestinya tidak melakukan perbuatan tersebut di masa yang akan datang. Pimpinan sekedar menghimbau kepada “pelanggar disiplin”, namun seberapa besarkah disiplin juga punya malu?

 
Copyright © 2012 LJM-UMS