"MENGAJI" di Nanyang Technological Universty (NTU) Singapore ?


"Catatan dari Singapura Bagian 1"
QAC-P3AI UMS mengirimkan stafnya, Drs. Abdullah Aly, M.Ag., ke NTU Singapura untuk mengikuti short course. Berikut catatan mengenai apa yang yang dirasakan dan dapat dibagi dengan pengunjung Web QAC-UMS selama beliau di negara tetangga itu.

Kata ‘mengaji’ selama ini oleh sebagian orang dipahami sebagai kata yang mengandung pengertian kegiatan memperdalam ilmu-ilmu agama Islam (tafaqquh fi al-din). Karena itu, kegiatan ini biasanya mengambil tempat di mushalla, masjid, pesantren, dan madrasah—meskipun kegiatan seminar keagamaan ada yang diselenggarakan di hotel-hotel. Atas dasar ini, kegiatan memperdalam ilmu-ilmu seperti ekonomi, pendidikan, politik dan lain-lain yang biasanya mengambil tempat di perguruan tinggi atau di pusat dan lembaga-lembaga ilmiah bukanlah termasuk dalam pengertian mengaji. Jadi, pengertian mengaji menurut sebagian orang sangat terbatas pada kegiatan belajar untuk displin ilmu agama saja.

Memperhatikan pengertian mengaji di atas, saya semula ragu untuk berangkat ke Nanyang Technological Universty (NTU), Singapore. Mengapa ragu? Karena pada bulan ramadhan 1427 H ini beberapa teman dan kolega saya telah merencanakan program khusus untuk mengisi bulan suci ramadhan di tempat-tempat yang suci. Program khusus tersebut seputar kegiatan mengkaji dan memperdalam agama Islam. Di antara mereka ada yang pergi umrah ke Mekah, tempat mengaji dan mengembangkan spiritual bagi umat Islam sedunia. Sebagian yang lain ada yang mengisi bulan ramadhan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan halaqah di sejumlah masjid dan pesantren. Sebagiannya lagi ada yang melakukan kegiatan-kegiatan dakwah Islamiyah di berbagai mushalla, masjid, dan tempat-tempat kajian keislaman lainnya.

Menghadapi keraguan tersebut, saya mencoba berdialog dengan diri sendiri. Benarkah kata ‘mengaji’ itu hanya bermakna pada kegiatan memperdalam agama Islam (tafaqquh fi al-din) saja? Bukankah semua kegiatan manusia di muka bumi ini bisa menjadi kegiatan keagamaan bila diproyeksikan untuk kepentingan manusia kebanyakan (mashlahah ’ammah)? Bukankah ada seorang ulama (Imam al-Ghazali?) yang mengatakan bahwa banyak aktivitas yang bersifat duniawi tetapi sebenarnya adalah aktivitas ukhrawi (baca: keagamaan)? Sebaliknya, benarkah aktivitas yang bersifat ukhrawi (baca: keagamaan) bisa berubah menjadi aktivitas yang bersifat duniawi? Dialog ini saya lakukan secara intensif beberapa hari sebelum berangkat. Pada saat dialog dengan diri sendiri, saya diingatkan oleh sabda Rasulullah SAW. Sabda beliau menyebutkan: ”bahwa semua aktivitas seseorang itu tergantung pada niatnya.” Melalui dialog dengan diri sendiri dan tercerahkan oleh sabda Nabi SAW tersebut lahirlah keyakinan saya bahwa tujuan dan spirit keagamaanlah yang menentukan bahwa suatu aktivitas itu merupakan aktivitas ukhrawi (baca: keagamaan). Dengan spirit keagamaan ini pula, saya mantap mengambil sikap: ”saya harus berangkat!”. Biar teman dan kolega saya ’mengaji’ dengan cara berumrah, berhalaqah, dan berdakwah di bulan ramadhan ini. Saya ’mengaji’ di bulan suci ini dengan cara lain, yaitu memperdalam masalah-masalah yang berkaitan dengan pembelajaran di NTU, Singapura. Yang mendorong saya untuk ’mengaji’ di NTU ini adalah komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) khususnya dan di lembaga-lembaga pendidikan lainnya pada umumnya. Sebagai tambahan informasi, saya ’mengaji’ di NTU ini atas beaya dari TPSDP-ISS Grant, untuk kegiatan Non-Degree Overseas Training. (Bersambung Bagian 2)

 
Copyright © 2012 LJM-UMS