APA LESSONS LEARNT DARI NTU?

Dari segi materi banyak yang saya pelajari dari NTU, baik yang bersifat pendalaman maupun pengayaan. Materi yang bersifat pendalaman dapat saya pahami sebagai materi yang telah saya kuasai, dan selanjutnya saya perdalam lagi dengan beberapa pakar, baik yang berasal dari CED maupun dari NIE. Adapun di antara materi yang termasuk dalam kategori pendalaman adalah: (1) adult learning yang memliki 4 karakterisktik, yaitu: (i) belajar mandiri, (ii) belajar dari pengalaman (learning by experiencing), (iii) belajar berdasarkan kebutuhan, dan (iv) belajar sepanjang hidup; (2) learning styles yang mencakup visual, auditory dan kinesthetic learners; (3) learning theories yang meliputi: (i) teori behaviorisme, (ii) teori kognitivisme, (iii) teori konstruktivisme, dan (iv) teori sosial konstruktivisme; (4) teaching strategies yang mencakup belajar aktif, partisipatif, kolaboratif, dan kooperatif; serta (5) assessment and evaluation, yang meliputi: tes obyektif, subyektif, dan alternatif. Secara umum kelima hal tersebut sudah saya kuasai, bahkan itulah yang selama ini dijadikan oleh tim fasilitator QAC-P3AI UMS sebagai materi dalam berbagai workshop desain pembelajaran partisipatif yang diselenggarakan.

Lalu, apa yang baru dari NTU? Nah, inilah yang saya sebut pengayaan. Materi pengayaan saya pahami sebagai materi yang saya peroleh dari para pakar NTU—baik representasi dari CED maupun dari NIE—yang merupakan hal baru tetapi masih berkaitan dengan 5 materi pendalaman di atas. Saya beri contoh sebagai berikut dengan sedikit penjelasan.

Pertama, yang berkaitan dengan materi adult learning [andragogi] saya memperoleh pengayaan yang sangat berarti. Misalnya, adult learning ternyata memiliki 9 ciri pokok, yaitu: (i) Mahasiswa memiliki beragam latar belakang ilmu pengetahuan dan pengalaman; (ii) dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, mahasiswa memerlukan peluang untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran secara suka rela [voluntarily]; (iii) Dosen memerankan diri sebagai fasilitator dan pengendali suasana pembelajaran; (iv) Pendekatan ini memungkinkan pembelajaran menekanan pada aspek aplikasi; (v) Pendekatan ini menuntut terciptanya suasana saling menghargai, baik dalam interaksi antar mahasiswa maupun interaksi antar ide yang berkembang; (vi) Pendekatan ini memungkinkan adanya kolaborasi antar elemen pembelajaran secara menyenangkan [enjoy collaboration]; (vii) Dosen dapat mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk mengintegrasikan konsep-konsep baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki [prior knowledge]; (viii) Pendekatan ini menyadarkan para mahasiswa pentingnya belajar sepanjang masa [lifelong learning]; dan (ix) Pendekatan ini memungkinkan para mahasiswa untuk menjadi agen perubahan [change agents] dalam masyarakat.

Kedua, yang berkaitan dengan materi learning styles saya memperoleh tambahan yang baru juga, yaitu: (i) learners as activist, (ii) learners as reflector, (iii) learners as theorist, dan (iv) learners as pragmatist. Bila di kelas kita menjumpai mahasiswa yang lebih menyukai melakukan eksperimen—termasuk simulasi, studi kasus, dan mengerjakan home-works—maka dia dapat dikatakan sebagai mahasiswa yang memiliki gaya belajar activist. Sebaliknya, bila mahasiswa lebih menyukai brainstorming, elisitasi, diskusi, debat, dan seminar maka dialah yang disebut mahasiswa bergaya belajar reflector. Adapun mahasiswa yang memiliki gaya belajar theorist adalah mahasiswa yang dalam aktivitas belajarnya cenderung kepada membaca buku, berfikir, membuat analogi, dan membandingkan teori satu dengan teori lainnya. Sebaliknya, mahasiswa yang dalam aktivitas belajarnya cenderung kepada pengalaman konkrit—baik di laboratorium, bekerja di lapangan, maupun observasi—maka dialah yang kita sebut sebagai mahasiswa bergaya belajar pragmatist.

Ketiga, untuk materi learning theories saya juga memperoleh materi baru dari short course di NTU. Ada 5 tambahan materi tentang learning theories yang saya peroleh, yaitu: (i) subject-oriented learning, (ii) consumer-oriented learning, (iii) emancipatory learning, (iv) situated cognition, dan (v) self-directed learning. Teori pertama meyakini bahwa yang terpenting dalam belajar adalah memperoleh materi—baik dalam bentuk konsep, teori, skill, maupun pengalaman. Teori kedua—mirip dengan teori pertama—berkeyakinan bahwa belajar itu merupakan aktivitas memperoleh apa yang diberikan oleh dosen/guru. Bagi teori ini, dosen/guru harus banyak memberikan materi kepada mahasiswa. Sebaliknya, emancipatory learning berpandangan bahwa yang terpenting dari belajar adalah proses membebaskan diri dari tekanan yang membelenggu. Bagi teori ini dosen/guru yang cenderung ceramah dalam kuliahnya dalam batas tertentu dipandang sebagai faktor yang membelenggu mahasiswa. Senada dengan teori ini adalah teori belajar self-directed learning. Teori ini berpandangan bahwa belajar yang sesungguhnya adalah belajar mandiri, mengatur diri sendiri, dan mengelola diri sendiri. Dosen/guru oleh teori ini hanya diposisikan sebagai fasilitator dan mentor. Lalu, apa situated cognition itu? Situated cognition merupakan teori belajar yang beranggapan bahwa belajar sesungguhnya merupakan kegiatan untuk mempertemukan topik pembelajaran dengan situasi kehidupan yang riil [real-life situation] di masyarakat.

Keempat, dari sisi teori mengajar ada beberapa tambahan yang saya dapatkan dari NTU, yaitu: (i) cara efektif mentransfer ilmu, (ii) prinsip-prinsip pembelajaran yang menggairahkan, (iii) cara membangun minat dan perhatian (attention) mahasiswa, (iv) cara mengembangkan relevansi (relevance) dalam pembelajaran, (v) cara membangkitkan percaya diri (confidence) mahasiswa dalam pembelajaran, (vi) cara meningkatkan kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran, (vii) cara membuat laporan tentang need analysis untuk pembelajaran, dan (viii) cara membuat lesson plan model Gagne, yang mencakup 9 langkah, yaitu: bangun perhatian, nyatakan tujuan pembelajaran, lakukan review, berikan materi, berikan petunjuk, praktikkan materi, beri feedback, ukur keberhasilan kinerja, dan kuatkan ingatan.

Kelima, untuk materi assessment and evaluation saya memperoleh tambahan materi baru pada dua hal. Kedua hal tersebut adalah: assessment alternative dan hal-hal yang berkaitan dengan plagiarisme. Selama ini, alternatif penilaian yang saya tahu adalah apa yang kita sebut dengan 10 P (ten P’s): presence, practice, paper, presentation, product, performance, pre-test, proposal writing, project, dan portfolio. Selain itu, ternyata ada penilaian alternatif model lain dan ini saya peroleh dari mengikuti short course di NTU. Penilaian alternatif model lain tersebut adalah Digital Dropbox, Safe Assignments, WebQuest, Video-based assignments, dan Discussion Board. Ini semua berbasis ICT. Hal baru lain yang saya dapatkan dari ’mengaji’ di NTU adalah tentang plagiarisme. Di sini dibahas tentang bagaimana cara mendeteksi plagiarisme dan tip-tip untuk menghindari plagiarisme.Semoga bermanfaat![AA]

 
Copyright © 2012 LJM-UMS