MENYAMBUT MASA UJIAN AKHIR SEMESTER (1)

UJIAN YANG OPTIMAL DAN TIDAK ADA KECURANGAN

Masa Ujian Akhir Semester di UMS akan berlangsung mulai 18 Juni 2007 ini. Aktivitas kampus tampak semakin meriah. Hal ini bisa dilihat dari semakin banyak hilir mudik mahasiswa/i yang mungkin diantaranya sempat menghilang. Lahan parkir pun dijejali berbagai merek motor, mobil, dan sepeda onthel.

Kemeriahan ini juga tampak di sembarang kios duplikasi dokumen atau lebih tenar kios fotokopi. Berbagai dokumen laporan yang harus dikumpulkan menjelang ujian maupun salinan catatan kuliah bertebaran dan diperbanyak sesuai jumlah maupun ukuran pesanan. Sebagian diantaranya merupakan barang haram untuk dipergunakan sebagai ujian, maksudnya untuk menyontek.

Aturannya sebetulnya sudah jelas, mahasiswa yang mengikuti ujian dengan tipe closed book tidak diperbolehkan membawa dan membuka catatan dan material kuliah tersebut. Namun, ada saja mengenai segelintir mereka yang melakukan tindakan tidak terpuji ini. Kok bisa? Ya seperti moto sebuah tayangan televisi : BUKAN SAJA KARENA NIAT PELAKUNYA NAMUN JUGA KESEMPATAN YANG ADA. Berkaitan kesempatan yang ada tentu hal ini ada di tangan bapak dan ibu pengawas ujian.

Ada sebuah cerita dari seorang dosen UMS yang sedang studi di Inggris dan berkesempatan menjadi invigilator (pengawas ujian) disampaikan melalui mailing list.

Dua minggu ini saya menjadi invigilator di Newcastle University, salah satu motivasinya adalah untuk mengetahui sistem ujian di sini. Hal utama yang saya tangkap sebagai pengawas ujian adalah pengkondisian ruangan yg membuat mahasiswa bisa mengerjakan ujian dg optimal dan tidak ada kecurangan, juga sistem lembar jawab yang memungkinkan penilaian lebih obyektif.

Kondisi ujian bisa saya ilustrasikan dimana tiap ruang dilengkapi jam dinding. Pengawas terdiri dua orang untuk <40 mahasiswa. Pengawas datang 30 menit sebelum ujian kemudian mendistribusikan soal dan lembar jawab di tiap meja; sepuluh menit sebelum ujian, mahasiswa dipersilakan masuk ruang ujian dan meletakkan tasnya di tempat khusus yang disediakan serta mengisi kartu kehadiran. Mahasiswa/pengawas boleh bawa minum atau permen.

Soal ujian bisa dipilih, misal 3 dari 5. Perangkat pembantu berupa kalkulator yang digunakan dibatasi jenis tertentu, FX82/83/85/115, jika tidak sesuai harus dicatat utk diketahui penguji.

Ujian dimulai dan diakhiri on time dan dicatat jam/menit/detik. Mahasiswa yang akan ke toilet, harus dikawal pengawas. Pengawas tidak boleh nyambi apalagi ngobrol karena tak boleh ada gangguan suara apa pun. Bagi yang selesai lebih awal, boleh meninggalkan ruang hingga sebelum 15 menit ujian berakhir. Identitas nama mahasiswa disembunyikan dari penulisan di lembar jawab, cukup NIM saja. Setelah waktu ujian berakhir, mahasiswa tetap duduk di kursi masing-masing, pengawas mengambil semua lembar jawab/soal utk dihitung dan setelah semua lengkap, mahasiswa boleh keluar dan tertib.

Rasanya tata tertib ujian di UMS juga telah banyak kesamaan dengan apa yang berlangsung di negeri kangguru itu. Menurut dosen lain yang menanggapi e-mail tersebut, bedanya adalah pada pengawas yang tidak boleh nyambi. Pengawas ujian pada umumnya mengalami kebosanan yang mestinya bisa diobati tanpa harus melalaikan pengawasan. Obat kebosanan seperti koran, koreksian skripsi, koreksian ujian, dan lain-lain dapat dilakukan tanpa mengurangi ”awas” sehingga memberi kesempatan untuk berbuat curang.

 
Copyright © 2012 LJM-UMS