Implementasi Wacana Keilmuan dan KeIslaman

Sebuah tulisan masuk ke redaksi web QAC dengan penuh nada marah. Penulisnya, menyebut dirinya bernama Kirana yang mestinya seorang mahasiswa/i UMS, memberikan petikan fakta-fakta yang tidak memuaskan dirinya sebagaimana berikut :

"..sah-sah saja ketika slogan UMS seperti itu Wacana Keilmuan dan KeIlslaman). Masalahnya adalah ketika wacana KeIslaman menginjak wacana keilmuan, yang benar adalah berjalan beriringan. Sebagai contoh , mata kuliah KeIslaman menjadi prasyarat-prasyarat untuk mata kuliah Islam juga dan ini berlangsung selama 4 semester. Jadi apabila mahasiswa tidak lulus kuliah keislaman pada semester satu maka otomatis tidak bisa mengambil mata kuliah Keislaman pada semester berikutnya. Tak jadi persoalan apabila penilaian yang dilakukan oleh dosen yang bersangkutan dilakukan dengan obyektif."

Sungguh tajam inti masalah yang diprotes penulis tersebut, bahwa perilaku tidak obyektif menjadikan sekelompok mata kuliah menginjak mata kuliah lain. Bukan karena prasayaratnya namun tidak obyektifnya penilaian. BAGAIMANAKAH PENILAIAN YANG OBYEKTIF ITU?

Kita simak tulisan berikutnya, yang masih bernada tidak puas dengan kondisi sekarang :

"..perubahan kurikulum pun dirasa sangat terlambat, karena hanya baru dilakukan setelah lima tahun bertahan. Yang saya tangkap dari wacana keilmuan dan keislaman adalah bagaimana seorang mahasiswa bisa mengaplikasikan atau menerapkan ilmu yang diperoleh sesuai dengan ajaran-ajaran islam. Lalu pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah bagaimana proses itu bisa berjalan sesuai dengan makna dan tujuannya. Apakah perlu lagi digali tentang makna tersebut atau memang hanya sekedar menjadi wacana saja. Banyak sekali mahasiswa yang berpenampilan dan berperilaku tidak sesuai dengan norma-norma keIslaman..semoga slogan tidak hanya menjadi kalimat yang tanpa arti...."

Secara normatif memang kuruikulum bisa dievaluasi bila sudah ada hasilnya atau yang diluluskan melalaui kurikulum itu secara utuh (tanpa konversi). Menjadi menarik adalah apakah kita mampu menjadikan kurikulum kita responsif sehingga mampu mengikuti perkembangan keilmuan dan teknologi? Tidak menanti 5 tahun?

Bagaimana perilaku mahasiswa yang Islami? Sebuah otokritik yang selalu kita butuhkan.

Mudah-mudahan...ungkapan-ungkapan seperti ini semakin banyak muncul sehingga saling mengingatkan memang benar-benar berjalan di anatara civitas akademika UMS...agar masing-masing (mahasiswa, dosen, karyawan, pejabat, bukan pejabat)..menjadi semakin arif. Amiin.

 
Copyright © 2012 LJM-UMS